tentang penulis

Hai, salam kenal untuk semuanya. Saya Januar Robin Stanley, S.Kom. Blog ini saya buat sebagai sarana sharing pengalaman dan pemikiran saya berkaitan dengan dunia manajemen dan dunia Retail. Saya sudah berkecimpung di dunia ritel selama 2 tahun, dan jatuh cinta pada bidang ini sejak awal. Semoga rekan - rekan yang membaca bisa memperoleh Insight untuk mendukung pengembangan ekonomi di Indonesia. Terima Kasih
Januar Robin Stanley, S.Kom
Jr. Manager Store Support
PT. Indomarco Prismatama (INDOMARET)

Nov 22, 2011

Munculnya feminisme pada gaya hidup pada kaum pria


Profil Pengamatan
Usia                 : 20 – 35 tahun
Lokasi             : Jakarta
Strata Sosial    : Kelas Ekonomi Menengah ke atas, bekerja, minimal S1

Feminim merupakan ciri sifat dan perilaku yang umumnya dikorelasikan dengan kaum wanita. Sikap feminim identik dengan kelembutan, sensitif dan empati. Sikap feminim seseorang dapat terlihat dari perilaku, cara berpikir maupun cara berpenampilan. Kebalikan dari feminim adalah sikap maskulin yang umumnya dimiliki oleh kaum pria.

Beberapa ahli berpendapat bahwa dalam diri setiap orang pasti memiliki sisi feminim dan maskulin, namun akan muncul salah satu sisi yang dominan dalam perilaku keseharian. Beberapa tahun yang lalu, apabila seorang pria menunjukkan sisi feminisme yang dominan semisal dalam gaya berbicara maupun berpakaian maka pria akan tersebut akan dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya. Meski demikian, dengan semakin berkembangnya gaya hidup, teknologi dan pendidikan saat ini mulai bermunculan kaum pria yang memiliki sifat feminim yang dominan.
Berdasarkan beberapa sumber dari internet , beberapa ciri pria yang menunjukkan feminisme dominan akan memiliki pola perilaku sebagai berikut :
  • ·         Mengikuti perkembangan fashion
  • ·         Memperhatikan penampilan (menggunakan kosmetik dan speciaized mens grooming product)
  • ·         Perasaan yang sensitif
  • ·         Suka berkumpul dan bergosip
  • ·         Melakukan aktifitas / berkumpul dengan kaum wanita
 
Kaum pria dengan sisi feminim yang dominan seringkali bisa ditemui di kota – kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Kelompok ini sangat senang bersosialisasi di mal, café dan tempat – tempat ‘gaul’ lainnya. Terjadi perubahan value dalam masyarakat yang awalnya hanya menerima pria maskulin saat ini juga menerima pria feminim sebagai bagian dari masyarakat. Perubhana value ini memang hanya nampak jelas terjadi di kota – kota besar karena memang munculnya nilai ini kuat dipengaruhi budaya dari luar Indonesia. Perubahan nilai ini dipengaruhi oleh budaya dari luar yang banyak dikomunikasikan melaui media internet dan TV yang saat ini sangat banyak dikonsumsi masyarakat.
Perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan peluang yang harus bisa ditangkap oleh para pelaku bisnis dan marketer. Pergeseran nilai tentang feminim dan maskulin ini juga ditanggapi serius dalam beberapa industri seperti kosmetik, retail dan fashion. Beberapa produsen kosmetik mulai mengeluarkan produk yang dikhususkan bagi pria seperti Nivea for men, Garnier for Men dan sebagainya. Di segmen toko ritel saat ini salah satu pemain ritel terkemuka di Indonesia memberikan rak khusus untuk Mens’s Grooming (gambar 3)
 
Industri fashion juga banyak sekali mengembangkan desain – desain pakaian yang feminim bagi pria. Gaya feminim dalam berpakaian biasnaya ditonjolkan melalui pemilihan warna – warna yang soft, ukuran dan desain pakaian yang slim fit, celana jeans yang dilipat di ata tumit hingga ukuran tas besar seperti gaya wanita. Dalam komunikasi pemasaran, marketer juga melakukan penyesuaian desain komunikasi melalui penggunaan figur pria yang tidak lagi selalu maskulin namun juga menunjukkan sisi kelembutan dan feminim (gambar 4).
 

 
Kesimpulan
  1. ·Nilai dalam masyarakat dapat berubah seiring dengan perubahan faktor internal
  2. ·Perubahan nilai biasanya terjadi pada orang – orang yang memiliki ciri demografis serupa
  3. ·Seorang marketer harus bisa merespon perubahan nilai dalam masyarakat dengan melakukan pengembangan produk maupun metode komunikasi yang mengikuti perkembangan zaman
 
 

Nov 8, 2011

Perilaku Konsumen (INTRO)

Perilaku konsumen adalah studi tentang individu, kelompok, atau organisasi dan proses yang mereka gunakan untuk memilih, menggunakan, dan membuang produk, jasa dalam proses memenuhi kebutuhan.
Perilaku konsumen pada individu, dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang akan berdampak pada perilaku individu dalam mengambil keputusan untuk memenuhi kebutuhannya.
 Figure 1. The Consumer Behavior Model (Hawkins et al., 2009)

Faktor internal dan eksternal akan mempengaruhi bagaimana konsep diri dan gaya hidup individu. Gaya hidup dan konsep diri kemudian mempengaruhi individu dalam proses pengambilan keputusan. Studi perilaku konsumen, mempelajari bagaimana hubungan faktor eksternal dan internal dalam membentuk konsep diri serta gaya hidup. 

Dengan semakin bervariasinya gaya hidup manusia, seorang marketer harus mampu untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi serta mengambil peluang dari perubahan perilaku yang ada. Dengan memahami studi perilaku konsumen, kita akan mampu membedakan motivasi konsumen pada saat membeli produk/jasa yang kita tawarkan serta memahami harapan konsumen dari pembelian produk dan jasa tersebut.

Jul 29, 2011

Business Ethics (Intro)

Nilai Etika dasar
Nilai etika merupakan pemahaman nilai baik/buruk, benar/salah yang bersifat universal. Ada 3 nilai dasar yang perlu dipegang dalam penerapan nilai etika yaitu : Kejujuran, Keadilan dan integritas. Apabila ketiga nilai tersebut mendasari semua tindakan perusahaan atau individu, maka akan tercipta penerapan nilai etika yang baik dalam masyarakat. Penerapan nilai etika dalam bisnis meliputi beberapa aspek berikut :
1.    Kultur budaya dan relasi
2.    Pelaksanaan kegiatan bisnis sehari – hari
3.    Kepemimpinan dan keteladan dalam hubungan atasan – bawahan
4.    Pengambilan keputusan



Nilai Etika dalam Bisnis
Menerapkan nilai etika dalam berbisnis merupakan hal yang sangat penting. Dengan menerapkan nilai etika, perusahaan akan mampu menjadi organisasi yang sustain dalam jangka waktu panjang. Dalam dunia bisnis, banyak isu etika seperti : penipuan, penyuapan, conflict of interest, diskriminasi dan sebagainya. Isu etika tersebut sering terjadi dalam perusahaan dan menjadi dilema bagi individu yang ada di dalamnya. Dalam menerapkan nilai etika, perusahaan harus mepertimbangkan dengan jelas baik dari motivasi, proses hingga dampak akhir dari setiap tindakan yang di ambil. Prinsip teleologis dan deontologis harus selaras dikerjakan dalam penerapan nilai etika. Dengan demikian dalam penerapan etika, perusahaan tidak hanya memandang nilai etika sebagai kewajiban, namun sebagai bagian yang penting dalam mencapai tujuan akhir perusahaan yaitu sustainable company.



Program Etika dalam Perusahaan
Dalam perusahaan nilai – nilai etika yang ada perlu diatur  agar dalam pelaksanaan bisnisnya, perusahaan tidak menyimpang dari nilai – nilai etika. Dengan menentukan nilai etika yang dianut dalam perusahaan, maka nilai yang ada akan bisa disampaikan dengan lebih mudah kepada individu – individu yang baru bergabung ke dalam organisasi. Proses pembuatan program etika akan membuat semua individu dalam organisasi memiliki nilai etika dan interpretasi yang sama dalam melaksanakan aktifitas dalam organisasi. Program etika merupakan upaya memberikan petunjuk yang jelas kepada semua anggota organisasi. Code of Conduct merupakan contoh praktis program etika dalam perusahaan.
Code of Conduct adalah pedoman internal perusahaan yang berisikan Sistem Nilai, Etika Bisnis, Etika Kerja, Komitmen, serta penegakan terhadap peraturan-peraturan perusahaan bagi individu dalam menjalankan bisnis, dan aktivitas lainnya serta berinteraksi dengan stakeholders.
Code of Conduct disusun sebagai pedoman tata perilaku dalam organisasi yang meliputi sikap organisasi terhadap lingkungan eksternal dan internal, serta sikap individu yang menjadi bagian dari Organisasi. Code of Conduct harus disusun selaras dengan nilai – nilai yang mendasari gerak organisasi serta selaras dengan strategi organisasi dalam mencapai Visi dan Misinya.
Secara umum, dalam penulisan Code of Conduct digunakan sistematika sebgai berikut :
1.              Pendahuluan
2.              Nilai – nilai yang menjadi dasar organisasi
3.               Pedoman tindak tanduk
Code of Conduct dalam perkembangannyan perlu mengalami evaluasi sehingga isinya tetap selaras dengan perkembangan zaman maupun perubahan startegi perusahaan. 

to be continued ...

Jul 20, 2011

Sistem Pengawasan Toko [RETAIL SERIES]

Problem : mengurangi barang hilang di toko

Kehilangan barang bisa di sebabkan 4 faktor :
  1. Pencurian oleh konsumen
  2. Pencurian oleh karyawan toko
  3. Pencurian oleh sindikat pencuri (saat jam operasional toko ataupun saat tidak operasional)
  4. Kesalahan pencatatan


Solusi yang bisa digunakan masalah 1 :

  1. Menggunakan CCTV, monitor dipasang di area toko sehingga bisa digunakan untuk pengawasan
  2. Memasang stiker memberitahukan bahwa toko diawasi CCTV. Hal ini dibutuhkan untuk membuat calon pencuri aware terhadap keamanan toko dan mengilangkan niat mencuri
  3. Apabila memungkinkan maka konsumen harus menitip jaket dan barang bawaan di tempat khusus
  4. Pada jam ramai (11.30 - 13.00 dan 17.00 - 20.00) tempatkan pegawai pada lorong" barang-barang yang rawan hilang
  5. Barang - barang dengan nilai yang mahal dipajang pada rak di belakang kasir, misal kosmetik atau susu" premium
  6. Barang yang didisplay di rak hanya merupakan gimik saja / bungkus saja. biasanya untuk produk kosmetik berharga mahal
  7. Berikan SOP pada pegawai untuk selalu meberikan sapaan kepada setiap konsumen yang masuk toko atau berpapasan di rak. Dengan sapaan maka calon pencuri akan merasa di awasi
  8. Bila memungkinkan gunakan sticker sensor (RFID) pada barang-barang dengan nilai tinggi
 Solusi yang bisa digunakan masalah 2 :
  1. Gunakan sistem scanner dan Barcode pada kasir
  2. Pada awal dan akhir shift kerja, lakukan pengecekan tas, barang bawaan dan tubuh pegawai
  3. Sediakan loker penyimpanan tas khusus untuk karyawan
  4. Semua barang yang dibeli di toko oleh pegawai harus ada struknya sebgai bukti bahwa produk dibeli bukan dicuri
  5. Selalu lakukan rotasi pada orang - orang dalam shift, karena bekerja dengan orang yang sama bisa mempermudah untuk kerja sama pencurian
  6. Tetapkan kapasitas maksimal display, sehingga bisa ada barang yang berkurang di rak bisa langsung terdeteksi
  7. Lakukan penghitungan untuk 10 barang yang paling sering hilang pada setiap shift
  8. Gunakan sistem reward dan punishment untuk nilai barang hilang di toko. Buat standar minimum tertentu yang ditanggung oleh perusahaan. Selebihnya dbebankan kepada pegawai. Namun bila pegawai berhasil menjaga barang hilang dibawah batas maka mereka layak dapatkan reward
Solusi yang bisa digunakan masalah 3 :
  1. Gunakan sistem alaram dan CCTV
  2. Kunci pintu tidak boleh dipegang oleh 1 orang. Sebaiknya disebar ke 2 orang dengan jabatan berbeda
  3. Pastikan standar SOP untuk penguncian toko
Solusi yang bisa digunakan masalah 4 :
  1. Gunakan sistem terkomputerisasi dan sinkron antara gudang dan toko
  2. Lakukan stock opname setiap hari terhadap produk yang berbeda-beda
  3. Setiap 2 bulan sekali lakukan Stock opname terhadap seluruh produk yang ada di toko