7-Eleven (Sevel) - Seleb Ritel yang Kian Meredup

Wednesday, May 03, 2017

Sevel, tempat nongkrong yang popularitasnya melejit di Ibukota Jakarta saat tahun 2011. Mau nongkrong kece di Jakarta pada masa itu sudah pasti milihnya nongkrong di Sevel. Cobain Hotdog, Spagheti, minum Slurpee yang bisa bikin brain freeze sampe sekedar makan Chitato sapi panggang dengan topping cheese special punya sevel. Di tahun launchingnya sevel, waktu itu gue masih kerja di Indomaret dan sangat sangat takjub dengan standar kualitas dan pelayanan yang diberikan. Di awal launchingnya outlet pertama Sevel di sebelah mall Grand Indonesia - Jakarta Pusat, dalam 1 outlet kitaa akan menemukan 4 - 5 staff dalam 1 shift, 1 orang satpam yang ngebukain pintu dan 1 - 2 orang petugas kebersihan profesional seperti di kantoran. Salah satu luxury yang saya amati dimiliki oleh Sevel adalah sistem distribusi yang berpartner dengan Iron Bird (Group Bisnis Blue Bird) dan DHL. At that time i said AWESOME TO THE MAX

Cari tahu di sini : Misi Bisnis 7-Eleven Indonesia

Boleh dibilang pada tahun 2011, Sevel menjadi selebriti di bisnis ritel karena memberikan kesegaran dan harapan baru untuk segmen Convenience Store. Gue sebagai orang yang suka dengan dunia ritel menghabiskan banyak waktu untuk nongkrong di outlet Sevel mempelajari beberapa detail menarik yang hanya bisa kita temukan di Sevel. Coba deh kalo datang ke Sevel buka kulkas minuman trus in tip kedalam, di belakang semua kulkas Sevel itu langsung ada Gudang Dingin buat nyimpen produk produk minuman, trus kalau di kulkas ada barang yang kosong maka staff toko akan masukin barang dari sisi belakang kulkas, itulah rahasianya kenapa kalo kita ke Sevel bakalan dapat minuman yang selalu dingin dan segar dibandingkan kalo kita mainnya ke Indomaret atau Alfamart.

Jumlah Gerai 7-Eleven Indonesia, dikutip dari Tirto.Id

Tanda - tanda meredupnya Sevel mulai di rasakan sejak awal tahun 2015, pada masa itu Sevel mulai menutup beberapa gerainya dan dari sisi jumlah staff yang bekerja dalam 1 toko menurun drastis. Tentinya kondisi ini juga tercermin dari kondisi outlet yang jadi kurang bersih, beberapa fasilitas tidak berfungsi dengan baik karena perawarannya tidak lagi berjalan sesuai kualitas awal. Mungkin sekian aja ya gue cerita soal apa yang gue kagumi dari peritel ini dan sekarang gue pengen bahasa sedikit beberapa alasan (secara operasional dan marketing ritel) yang menyebabkan seleb ritel ini mengalami masa masa redup seperti saat ini.

1. Biaya operasional toko yang terlalu tinggi
Bisnis ritel sangat terpengaruh oleh biaya operasional harian toko, dengan margin yang tidak terlalu tebal, setiap peritel perlu memperhatikan detil detil pengeluaran operasionalnya sehingga bisa menghasilkan angka nett keuntungan yang baik. Gue bisa bilang biaya operasional outlet Sevel terlalu tinggi dengan mengamati beberapa hal seperti banyak outlet yang menggunakan Automatic Door, kulkas pendingin kualitas impor, buka 24 jam di semua lokasi. Sebenarnya biasa operasional toko yang tinggi atau rendah akan sangat relatif terhadap omzet yang diperoleh setiap hari. Sah sah saja kalau kita ingin memberikan kualitas layanan dan fasilitas yang terbaik buat konsumen, tapi ya balik lagi apakah semua fasilitas tersebut bisa memberikan kontribusi yang baik terhadap omzet atau tidak.

2. Nongkrong gak jajan
Lagu Slank judulnya makan gak makan asal ngumpul ini cukup berbahaya buat para peritel dengan konsep Convenience Store. Bayangkan kalau banyak pengunjung toko hanya mampir buat duduk dei depan toko atau di dalam toko, nungguin temen - temennya dateng, ngobrol ketawa ketiwi tapi ga beli apa apa, atau belanjanya hanya air mineral botol satu buah. Disitu peritel merasa sedih T__T. Iyesh perlu diakui kalo Sevel akhirnya hanya dijadikan tempat nongkrong karena ada AC dan banku kursi yang nyaman, namun banyak konsumen yang tidak memilih untuk jajan di situ karena berbagai alasan.

3. Terhimpit kompetitor sejenis dan segmen minimarket plus
Tentunya Sevel bukan bermain sendiri di segment convenience store. Sejak lama ada pemain lama yang masih exist (namun kurang berkembang) di Indonesia seperti Circle K (Tau gak kalo sekarang Circle K punya logo baru ?), Indomaret Point, Lawson (Group Alfamart), Familymart (Wings Group) dan beberapa pemain lainnya. Persaingan ini cukup sengit karena Sevel harus bersaing dengan Indomaret dan Alfamart yang super agresif dalam perkembangan outletnya. Dari sisi harga, Sevel memiliki strata yang lebih tinggi dibandingkan Indomaret dan Alfamart. Di sisi lain, Indomaret dan Alfamart juga serius meningkatkan kenyamanan dan kualitas layanan mereka di segmen Convenience Store. Tidak jarang kita melihat Indomare dan Alfamart 'menghiimpit' lokasi Sevel sehingga konsumen yang price sensitive pasti memilih belanja di Indomaret dan Alfamart, tapi tetep nongkrongnya di Sevel biar kece HAHAHAHAHA.

4. Mengabaikan penjualan produk dari rak tengah
Kalau kita masuk dan melihat store layout Sevel, secara garis besar kita bisa kelommpokkan sebagai Rak pinggir yang isinya produk - produk seperti minuman, roti, hot dog, makanan ready to eat, Slurpee dan Rak Tengah yang isi nya produk - produk snack, biskuit, permen, personal care, kelompok produk yang dijual di minimarket Indomaret dan Alfamart. Dari yang gue amati selama ini, Sevel banyak lakukan inovasi di Rak Pinggir dan sedikit mengabaikan penjualan di Rak Tengah. Sebagai pengelola bisnis ritel, kontribusi omzet per meter persegi sangatlah penting. Produk produk di Rak Pinggir seringnya bersifat up and down tergantung dari adnaya inovasi menu baru atau tren selera dari konsumen, Rak Tengah mestinya dikelola dengan baik karena berisi produk - produk yang sudah rutin dibeli dan dikonsumsi setiap hari oleh konsumen. Menurut saya sebagai pengamat ritel, aspek nomor empat merupakan aspek yang paling krusial dari meredupnya Sevel di Indonesia. Beberapa tulisan di internet juga menyebutkaan, penurunan omzet yang drastis di alami Sevel dengan berlakuknya larangan penjualan minuman keras di ritel minimarket dan convenience store, tapi menurut gue larangan itu harusnya tidak menjadi masalah utama karena toh pemain lain juga mengalami larangan tersebut dan tetap bisa SURVIVE.

Kabar terakhir yang saya lihat di beberapa portal berita, akhirnya Sevel Indonesia yang dimulai oleh  PT Modern Sevel Indonesia (MSI) akhirnya menyerah dan beralih kepemilikan ke PT Charoen Pokphand Restu Indonesia (CPRI) yang merupakan entitas dari PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tbk.

You Might Also Like

0 comments

Like Us On Facebook

My Blog Partner